My Data

Rabu, 26 Oktober 2011

Perbedaan Tokyo dengan Jakarta

Kabar dari Jepang: Kebersihan Kota Tokyo


Bagi yang pertama kali datang ke Tokyo, mungkin akan terheran-heran seraya terkagum-kagum. Bukan hanya karena Tokyo merupakan kota megapolitan yang dipenuhi gedung-gedung yang tersusun rapih, melainkan juga karena kebersihan dan keindahan kota yang senantiasa terjaga. Ketika seseorang berjalan menyusuri sudut-sudut kota, pastilah tidak mudah untuk bisa menemukan sampah. Meski di Tokyo tidak pernah ada tulisan “Dilarang Buang Sampah disini!” sebagaimana yang sering ditemui di Jakarta atau kota-kota lainnya di Indonesia.
Meskipun di setiap sudut kota sudah terlihat bersih, di negeri Jepang, secara umum selalu dikampanyekan slogan Utsukushi kuni (Negara Jepang yang cantik). Kebersihan memang menjadi ciri utama Jepang, yang rasanya sulit di jumpai di negara lain. Meski tidak ada penghargaan semacam Kalpataru seperti yang setiap tahun diberikan pemerintah Indonesia terhadap kota terbersih di Nusantara, masyarakat Jepang tetap memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya menjaga kebersihan. Mungkin budaya malu yang telah mendarah daging turut mendorong masyarakat Jepang untuk tidak buang sampah sembarangan dan selalu berusaha hidup bersih.
Secara umum kota-kota di Jepang sangat bersih. Bukan hanya di sepanjang jalan utama, namun lebih jauh ke dalam, digang-gang kecil bahkan di sepanjang daerah aliran sungai termasuk juga didalamnya. Walaupun bersih yang dimaksud masih harus diberi tanda kutip, karena air sungainya berwarna kehijauan terlihat sedikit aneh, namun aneka macam sampah, terutama sampah-sampah plastik hampir tidak terlihat. Sungai di beberapa tempat di pusat kota ada yang dijadikan sebagai tempat wisata. Kalau sungainya kotor dan bau, tentu tidak ada orang yang mau datang.
Pemerintah Jepang sendiri memiliki kemampuan yang baik dalam mengelola sampah, baik sampah rumah tangga maupun sampah industri. Masyarakat diberikan arahan mengenai bagaimana mereka seharusnya menangani sampah baik di rumah maupun di lingkungan disekitarnya. Salah satu cara pengelolaan sampah yang diterapkan misalnya dilakukannya pemisahan jenis-jenis sampah yang dimulai dari rumah.
Pemisahan dan pengelompokan sampah di setiap kota di Jepang berbeda-beda meskipun secara umum sama. Misalnya di kota Toyohashi, pemerintahnya membagi tujuh kategori sampah rumah tangga yang mesti dipisahkan sendiri-sendiri oleh warga kota sebelum diletakkan/dibuang ke tempat yang ditentukan pada hari yang dijadwalkan. Ketujuh itu yakni: 1) Moyasu Gomi atau Sampah yang dapat dibakar (Burnable Waste), 2) Umeru Gomi atau Sampah urug (Land-fill Waste), 3) Purasutikku Gomi atau Sampah plastik (Plastic Waste), 4) Kowasu Gomi atau Sampah yang dapat dihancurkan/diremukkan (Crushable Waste), 5) Yuugai Gomi atau Sampah yang beresiko/berbahaya (Hazardous Waste), 6) Shigen Gomi atau Sampah yang dapat didaur ulang (Recyclable Waste) dan 7) Okina Gomi atau Sampah besar (Bulky Waste).
Di kota Tokyo sendiri sampah dipisahkan dalam empat kelompok, yaitu 1) Combustible Waste (sampah yang dapat dibakar), 2) Non-Combustible Waste (sampah yang tak dapat dibakar) seperti plastic, steoroform, sampah kaca atau beling, dan lain-lain, 3) Recyclable Items (sampah yang dapat didaur ulang) seperti Koran dan majalah, botol-botol plastik, kotak kardus, dan lain-lain, dan 4) Large-size Waste (sampah berukuran besar) yaitu sampah yang beukuran lebih dari 30 cm, seperti meja, kursi, lemari, dan lain-lainnya. Untuk sampah elektronik seperti televisi, kulkas, mesin cuci, komputer dan lain-lain harus dikembalikan ke toko dimana barang tersebut dibeli.
Di kota yang penduduknya sangat padat ini, limbah rumah tangga yang berbentuk cairan tidak bisa dialirkan ke dalam got begitu saja, namun semuanya harus tersambung ke pipa milik pemerintah. Tokyo terkenal dengan sistem transportasi umum bawah tanahnya atau yang biasa disebut Subway. Bayangkan saja kalau seandainya semua warga bisa menggali dan membuat lubang kamar mandinya sendiri, stasiun dan jalur kereta api yang letaknya dibawah tanah tentu bisa bau bahkan bangunan bisa jebol kebawah. Membuat bangunan rumah atau gedung di sini juga cendrung membutuhkan waktu lama, hanya untuk urusan bawah tanah seperti pipa air, limbah dll.
Selain adanya pemisahan, masyarakat juga tidak bisa membuang sampah pada sembarang waktu. Setiap jenis sampah hanya boleh dibuang pada waktu yang telah ditentukan. Orang disini menyebutnya hari membuang sampah, dimana tiap jenis sampah akan dikumpulkan oleh petugas kebersihan kota pada hari yang berbeda. Untuk sampah yang dapat dibakar, petugas kebersihan kota akan mengambilnya dua kali setiap minggunya, dengan hari yang berbeda untuk setiap kecamatan dan keluarahan. Sampah yang tidak dapat dibakar dan sampah yang dapat didaur ulang diangkut seminggu sekali. Sementara untuk sampah berukuran besar, seorang yang akan membuang sampah harus memesan terlebih dulu ke dinas kebersihan dan biasanya akan dikenakan biaya transport dan biaya pembuangan.
Masyarakat Jepang tentu saja tidak mengenal konsep “kebersihan sebagian dari pada iman” sebagaimana yang ada di negeri-negeri Muslim. Namun semangat dan disiplin mereka dalam menjaga kebersihan sama sekali tidak diragukan. Di negeri-negeri muslim seperti Indonesia, tumpukan sampah yang menggunung dipinggir jalan sangat mudah ditemukan, bahkan dikota sebesar Jakarta. Bandara Internasional di Dubai terkenal paling mewah, tapi juga sekaligus terkenal jorok dan kotor. Bagi mereka yang pernah pergi haji pasti menemukan pemandangan yang sama sekali jauh dari semangat menjaga kebersihan. Sampah tidak hanya menumpuk di Musdhalifah, tapi juga berserakan disepanjang jalan dari Masjidil haram ke Mina.(Mukhamad Najib, Tokyo Jepang)

Jakarta Kota kotor Bagaimana Buruk

Beberapa waktu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa Jakarta adalah kota terkotor ketiga di dunia, di depan Mexico City dan Bangkok. Tetapi pada saat yang sama, salah satu lembaga penelitian WHO, yaitu Clean Air Inisiative (CAI), mengeluarkan pernyataan bahwa kualitas udara di Jakarta adalah yang terbaik ketiga di Asia. Mana yang benar?
Berbeda dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh WHO yang memiliki banyak aspek penelitian, penelitian yang dilakukan oleh CAI hanya didasarkan pada jumlah partikel debu yang terkandung di udara. Jakarta memiliki tingkat 68,5 mikrogram per meter kubik debu udara, di belakang Singapura (30), dan Surabaya (60). Tapi tentu saja, kualitas udara tidak dapat dinilai hanya dari isi debu saja. Bahkan, udara di Jakarta tidak baik untuk bernapas, terutama jika Anda terjebak dalam kemacetan lalu lintas di mana ada banyak asap knalpot dari kendaraan. Ditambah dengan udara panas di siang hari, Anda akan punya pilihan selain menggunakan AC di rumah dan kantor di mana Anda bekerja.
Jadi, seberapa buruk tingkat kebersihan di Jakarta? Aspek dinilai oleh WHO dalam menentukan Jakarta sebagai kota terkotor ketiga di dunia, adalah kualitas air tanah, udara, dan spasial. Mari kita mulai dari kualitas air tanah.
Penduduk Jakarta menghasilkan sekitar 6.500 ton sampah setiap hari. Dari jumlah ini, sekitar 30% dibuang ke sungai, selokan, dan air saluran, yang menyebabkan air sungai dan selokan di Jakarta tidak pernah bersih dan selalu buruk berbau. Selain itu, Jakarta tidak memiliki cukup ruang terbuka untuk menjadi daerah resapan air hujan, yang idealnya 30% atau setidaknya 13%, sehingga Jakarta selalu banjir di musim hujan. Jadi Anda tidak pernah berharap untuk mendapatkan air tanah bersih di Jakarta. Air bersih yang digunakan untuk warga Jakarta untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan air minum, sebagian besar diambil dari Bogor, sebuah kota pegunungan tidak jauh di selatan Jakarta.
Bagaimana dengan kualitas udara? Jakarta tidak hanya pemerintah negara bagian pusat untuk Indonesia, tetapi pusat dari segala sesuatu. Jakarta adalah pusat industri, keuangan, hiburan, fashion, pendidikan, dan lain-lain. Akibatnya, Jakarta menjadi kota yang sangat padat penduduk, karena semua orang mencari pekerjaan di sini. Kota ini meliputi sekitar 650 kilometer persegi, dan dihuni oleh 12 juta orang. Banyak penduduk menyebabkan permintaan perumahan sangat tinggi, sehingga tidak ada ruang yang tersisa untuk tanaman dan pohon yang dapat menghasilkan oksigen. Selain itu, pabrik-pabrik yang menghasilkan banyak asap dan limbah, sebagian besar juga terletak di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dan Anda tidak bertanya lagi berapa banyak jumlah kendaraan di Jakarta, begitu banyak! Penduduk Indonesia mengkonsumsi 1,5 juta barel minyak per hari, relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan negara lain, di mana sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Jika Indonesia pada musim kemarau, udara di Jakarta akan sangat berdebu, terutama di daerah industri yang memproduksi banyak polusi.
Dan apa tentang struktur tata ruang? Jakarta adalah kota yang miskin, di mana sebagian besar penduduk tinggal di daerah kumuh dan kotor. Bangunan bangunan tempat tinggal dan kantor sering dibangun hanya dengan melihat aspek ekonomi dan lokasi strategis, terlepas dari sistem drainase, ruang terbuka hijau, dampak pada kepadatan lalu lintas, dan sebagainya. Ada juga lapangan golf yang tepat di samping kumuh. Pemerintah daerah tidak pernah serius prihatin tentang struktur spasial, karena untuk mengatur ruang di Jakarta sulit, karena semua terpusat di sini. Jumlah mobil dan sepeda motor di Jakarta selalu meningkat, sekitar 200 yang 2.000 unit baru per hari, sehingga tingkat kemacetan lalu lintas di Jakarta selalu meningkat dari hari ke hari. Akibatnya, untuk sampai ke lokasi di pusat kota yang hanya 5 kilometer, bisa memakan waktu hingga 1 jam atau lebih.
Adalah Jakarta benar-benar buruk?
Jakarta buruk, tapi untuk beberapa orang tertentu, Jakarta adalah surga, karena semuanya di sini. Katakanlah Anda tinggal di Jakarta. Jika Anda memiliki cukup uang, maka Anda tidak perlu mandi di air keruh, atau mengalami sesak napas, atau tinggal di daerah kumuh, seperti sebagian besar warga lain di Jakarta. Anda dapat mandi di air jernih, bernapas dengan udara sejuk dan segar, tinggal di apartemen mewah dan bersih yang memiliki fasilitas lengkap. Dan Jakarta menyediakan semuanya. Anda dapat bermain golf, santai ke taman air, belanja baju bermerek, makan es krim yang lezat italia, dan sebagainya, tanpa perlu keluar dari Jakarta. Bahkan jika Anda ingin menghirup udara segar yang nyata yang tidak dari AC, Anda hanya harus pergi ke Puncak, daerah pegunungan di Bogor yang terletak tidak jauh dari pusat kota Jakarta. Tapi tentu saja, Anda memerlukan banyak uang untuk itu semua. Dan apa pun yang Anda kaya, kemacetan lalu lintas adalah sesuatu yang Anda tidak dapat menghindari, jika Anda memilih untuk tinggal di Jakarta.
Jadi slogan benar. Anda bisa melakukan semuanya di Jakarta, tetapi hanya jika Anda punya cukup uang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar